Tampilkan postingan dengan label berburu makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berburu makanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

Cerita Ayam Di Chicken Story

Di mall, mungkin makanan bisa dikatakan itu-itu saja. Kalau tidak ayam, ya daging. Kalau tidak nasi ya mie. Pilihannya itu-itu saja. yang berbeda adalah, cara penyajiannya yang bagaimana. Nah kali ini yang akan kita bahas adalah sebuah restoran ayam bernama Chicken Story. Alasan kita akan bahas ini sebenarnya adalah Mega, Pacar saya memiliki voucher diskonan. Dan kita ngeredempt itu lagi. hohoho.

Restoran berlogo kepala ayam itu memang terdapat dimana-mana. Nah, kami memilih Chicken Story La Piazzadi lantai 2 sebagai tempat makan kami. Tempatnya sih enak, cukup cozy dengan 2 pilihan pemandangan. Mau yang langsung ke jalan raya atau ke stage band La Piazza. Kami memilih yang menghadap stage.

Saat sampai disana, kami langsung dihampiri oleh pelayannya. Saat dia lihat kami pake voucher, dia langsung bilang ‘oooh’ dengan nada seperti orang baru nginjek tai ayam. Gak enak. Tapi sebodo lah, kita sudah biasa. Pilihan di voucher itu adalah 1 Ayam Sambal Rempah, 1 Ayam Bakar Original, 2 nasi putih, 2 Cah Kangkung dan 2 gelas es teh manis, menu yang cukup banyak untuk hanya  2 orang.
Pesanan yang datang pertama adalah teh manis. Pas diminum kok tawar… ternyata belum diaduk… bego saya. Abis itu nunggu pesenannya. Kok lama yah? Beneran lama. mungkin ada sekitar 20-30 menit kami nunggu kayak orang bego. Dan akhirnya pesanan pun datang.

Ayam Bakar Original rasanya cukup enak. Rasanya manis gurih, kecapnya merata dan bumbunya cukup masuk kedalam. Tidak terdapat bekas panggangannya menjadi nilai plus disini. Sambelnya adalah sambal terasi. Warnanya merah kehitaman. Rasanya enak, tidak terlalu pedas. Malah cenderung manis.



Untuk Ayam Sambel Rempah, dia cukup unik. Ayamnya digoreng biasa lalu disiram dengan sambel rempah. Sambal rempahnya ini enak. Ada cabe rawit, dengan bawang merah dan bawang putih. Namun yang menarik adalah hadirnya rasa daun kemangi didalamnya. Menurut saya, ini adalah the best sambal di menu ini.



Ironisnya, dari lamanya kami menunggu, ternyata semua ayamnya itu dingin semua. Emang sih gak dingin sedingin air, namun hangatnya cenderung sudah hilang. Saya sampai bingung, memang chefnya ngapain aja ya, nunggu selama itu tapi ayam sudah dingin? Masak kangkungnya?



Well, untuk kangkung memang masih panas. Panas banget malah. Cah Kangkungnya cukup menantang, soalnya dari atas memang biasa saja, namun di balik kangkung ada sambal terasi yang cukup banyak. oh ya, sambal terasinya agak beda dengan sambal terasi di Ayam Bakar Original ya, sebab warnanya agak merah menyala dengan terasi yang sedikit lebih tipis. Pas dicampur, rasanya jadi pedasa dan enak! Apalagi panas, ini adalah menu favorit saya di paketan ini. namun sayang, rasanya memang sedikit terlalu asin, sehingga harus menggunakan nasi agar tetap enak.

Berminat mencoba?

Ayam Perawan Mat Lengket

Jika anda penggemar nasi uduk dan ayam goreng, rasanya warung makan Ayam Goreng Mat Lengket patut anda coba. Meski hanya warung makan sederhana, namun warung satu ini telah cukup lama beroperasi. Bahkan namanya pun cukup dikenal dikawasan Rawamangun-Pulogadung Jakarta Timur.

Dengan moto yang agak nyeleneh “Ayamnya Masih Perawan, Itu Yang Bikin Lengket” Ayam Goreng Mat Lengket terus memelet pecinta ayam kampung goreng. Berdasarkan penelurusan yang dilakukan, Ayam Goreng Mat Lengket telah beroperasi sejak tahun 1973. Hmm, bukan waktu yang sebentar bukan. Nah, lantas apa sih yang menjadi menu andalan? Ya tentu saja ayam gorengnya yang menjadi andalan, apalagi disini menunya terbatas. Hanya seputaran ayam dan lalapannya saja.  

Begitu masuk warung, anda bisa langsung memesan nasi uduk dan ayamnya. Pesanan tidak akan datang terlalu lama, meningat ayamnya sudah digoreng terlebih dahulu dalam porsi besar. Ayamnya juga cenderung mungil, bahkan terlalu kecil untuk nasi uduk yang porsinya cukup besar. Ayamnya berbumbu kuning tanpa kulit. Rasanya gurih dan empuk untuk ukuran ayam kampung. Gurihnya ini yang mengundang untuk mengambil ayam dalam porsi besar dalam sekali suap.



Sayangnya, karena ayamnya sudah dimasak jauh sebelum dimesan, suhunya sudah tidak panas lagi. bahkan cenderung dingin. Ini yang sedikit merusak rasa dari ayamnya yang sudah gurih tersebut.

Nasi Uduknya nasi uduk betawi. Tidak terlalu istimewa selain rasa santannya yang cukup kuat dan porsinya yang WOW. Namun, sambal yang menjadi teman dari nasi uduk dan ayam goreng ini layak menjadi sorotan. Bentuknya memang layaknya sambal pada umumnya, merah menantang. Namun saat diicipi, rasanya tidak pedas. Bahkan cenderung manis gurih. Sangat pas untuk menemani ayam gorengnya.



Soal harga, 1 ekor ayam dihargai dengan harga Rp. 12000. Sedangkan untuk nasi uduk, Mat Lengket mematok harga Rp. 6000. Es teh manis dipatok di harga 3000. Secara keseluruhan memang terlalu mahal. Namun,walau mahal, warungnya selalu padat. Hoho. Berminat? Mat Lengket terdapat di Jalan Jatinegara Kaum Raya, lebih tepatnya di sebelah Masjid Makam Pangeran Jayakarta.

Rabu, 19 September 2012

Warung Makan Lesehan di Pelataran Pasar Cikini

Ayam goreng, pecel lele dan lain sebagainya, mungkin itu adalah menu yang biasa kita lihat dipinggir jalan. Namun ada yang berbeda setiap gw melewati sebuah warung tenda di pelataran pasar Cikini. Meski menu yang ditawarkan sama saja, namun warung tersebut selalu penuh sesak. penasaran dengan makanannya, akhirnya gw sama cewek gw mencoba menjajal tuh warung.

Berbekal dengan uang hasil ngepet sehari sebelumnya, kami pun pergi kelokasi setelah sholat magrib dan jalan jalan di Monas. tiba di TKP sekitar jam setengah 8anlah. Lokasinya sih emang gw akui pewe. Tempat nongkrong banget, tapi buat orang yang udah beranjak dewasa. Bukan buat ABG alay yang kebanyakan dikasih uang jajan, jadi ya untuk orang yang beranjak dewasa dengan duit seadanya tempat ini asik.

Disana gw Cuma nemu beberapa tempat duduk yang kosong. Akhirnya kami milih lesehan. Ada petugas berseragam merah yang langsung menghampiri dengan kertas dan menu. Menunya banyak, mulai dari makanan sampe minuman. Yang gak ada Cuma 1 yaitu harga. Harganya gak dicantumin. Namun kata Mega, harganya memang sedikit diatas rata-rata untuk makanan pinggir jalan.

Kami pun akhirnya memesan 2 potong ayam kampung, 2 nasi uduk, sama seporsi Dimsum. Selesai mesen, ternyata eh ternyata kami baru sadar kalo parkiran mendadak udah penuh dan tempat duduk dan full. Ada beberapa yang akhirnya terpaksa mengantri.

Penuhnya itu, berakibat pesanan datangnya agak lama. butuh waktu sekitar 15-20 menitlah baru pesenan dateng. Pertama adalah dimsum. Gw gak tahu apa nama dimsumnya, tapi isinya daging ayam. Rasanya sih enak, tapi enak yang biasa. gak istimewalah. Yang ngenes adalah, Dimsum ini hangat cenderung kearah agak dingin. Jadi gw agak kurang suka.

Dimsum apa ini namanya?
Gw berharap banyak sama nasi uduk dan ayam gorengnya. Namun sayang, ayamnya juga bernasib sama, sudah hangat cenderung dingin. Demikian juga nasinya. Soal rasa, gw agak bingung. karena biasanya ayam kampung itu khasnya agak alot, tapi ini empuk malah kayak ayam negeri. Namun rasa bumbunya emang gw akuin enak. Tapi ada beberapa bagian yang gosong. Nasi uduknya standard. Masih lebih enak langganan gw. Sorry.

Ayam Goreng Kampung Cikini


Makanan pinggir jalan gini, salah satu yang menentukan enak tidaknya adalah sambel. Sambelnya unik, ada 2. Sambel merah dan sambel kacang. Sambel kacangnya enak. Pedes manis rasanya. Sedangkan kacangnya kayak sambel pecel, tapi dengan air yang sedikit. Kalo sambelnya dicampur juga enak.  Ya intinya, the bestnya ada di sambel sih.

Nasi Uduk


Soal harga, gw rasa emang cukup mahal, soalnya dari segi rasa dibawah ekspektasi gw sama Mega. Untuk 2 nasi uduk, 2 ayam kampung, 1 es teh manis, 1 es jeruk dan 1 porsi dimsum, total menghabiskan dana Rp. 68 ribu. Parkir Rp. 2000. Pas lah ya Rp. 70.000. oh ya, disana juga ada pengamennya, tapi pengamennya enak kok, dia gak dari meja kemeja, jadi gak terlalu menggangu pas lo makan.

nah sekarang kalo ditanyain apakah gw masih mau kesini? well jawabannya sih mungkin. tapi mungkin lebih enak rame-rame kali ya? soalnya sekali lagi, buat gw ini bukan makanannya yang istimewa tapi suasananya nongkrongnya yang asik. itu aja dulu, kalo ada cerita lagi, nanti gw bagi... see ya...

Senin, 10 September 2012

Bothok Sembukan Khas Jawa Timur


Setiap daerah memiliki makanan khasnya. Salah satunya adalah Jawa Timur. Propinsi paling timur di pulau Jawa ini memiliki berbagai keanekaragaman makanan yang cukup terkenal semisal Rawon dan Rujak cingur. Namun ada satu makanan yang tidak terkenal namun cukup menggoyang lidah, yaitu botok Sembukan.

Sembukan? Apaan tuh Sembukan? Sembukan adalah nama sebuah tanaman yang dalam hal ini diambil daunnya. Nama lainnya adalah Daun Kentut, Kasembukan, Kahitutan, Bintaos dan Gumi Siki . Daun kentut? Kok dinamainnya aneh? Well, soalnya yang habis makan daun ini biasanya banyak kentutnya. Wkwkwk.

Namun daun ini memiliki manfaat yang banyak, diantaranya adalah untuk meredakan perut kembung, penawar racun, meningkatkan sel darah putih yang berkurang (leucopenia) akibat terapi dan juga penambah nafsu makan. Jadi jangan heran kalo abis amakan sembukan, lo bakal nambah nambah muluk.

Nah, Ibu gw baru pulang dari mudik ke Pare, Kediri, Jawa Timur. Beliau bawain oleh oleh Bothok daun Sembukan. Beliau sih beli di pasar dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp. 500 per bungkus. Murah ya? wajar sih, soalnya Sembukan itu bisa dibilang daun semak-semak yang di halaman rumah juga bisa ditemukan.

Penampilannya sederhana


Dasarnya Botok Sembukan itu gak jauh berbeda dengan botok lainnya yang menggunakan bahan dasar parutan kelapa. Namun bedanya ini botoknya menggunakan daun Sembukan sebagai bahan utama dan kelapa parut sebagai tambahannya. Jadi warnanya agak-agak item muda. Warna daunnya agak hitam, dipadu dengan warna kelapa yang udah agak kehitaman akibat dimasak bersamaan dengan daunnya. Jadi ya gitu, agak2 item upil. Kalau Bothok pada umumnya juga dicampur dengan Petai Cina dan teri, di Bothok Sembukan campurannya biasanya adalah tempe yang dipotong seiprit alias kecil banget.

Item upil
Soal rasa, Bothok Sembukan bisa dibilang sebagai salah satu makanan favorit gw. Dia enak, agak basah teksturnya, gurih namun tidak terlalu asin. Biasanya yang dibeli ibu gw rasanya agak pedas akibat cabe rawitnya. Rasanya masih manusiawi untuk digado. Tempenya juga basah soalnya dimasak bersamaan dengan bothoknya. Jadi bumbunya masuk banget ke dalem tempenya.

Namun, namanya masakan Indonesia pastinya gak pas kalau dimakan gak pake nasi. Jadi gw nyampur nasi sama Bothok Sembukannya. Warna nasi berubah jadi gak enak dilihat. Eit, jangan menghakimi hanya dari penampilannya kawan. Rasanya justru semakin nikmat. Tekstur ‘basah’ yang ada jadi hilang dan bikin nasi ‘memiliki rasa’. Tempenya juga jadi lebih menjadi lauk tanpa menghilangkan Bothok Sembukan sebagai menu utama. Rasanya masih dominan.

Gak jelas bentuknya tapi tetep enak
Nah yang gw gak suka dari makan ini, lo bakal pengen nambah muluk.Selain itu, Bothok Sembukan ini menurut gw gak cocok kalo dipakein lauk yang lain. Just bothok, rasanya itu lebih pas, apa lagi kalo lo makannya masih didaun pisangnya dengan Bothok Sembukan yang juga masih panas mungkul mungkul. Beddeeeh, sadis joon…

Berminat buat nyoba?

Jumat, 31 Agustus 2012

Sate Padang H. AJo Manih Enak Tapi Penuh


Siapa sih yang gak tahu masakan padang? Ayo ngacung? Pasti gak ada yah? Well, gw gak mau munak, masakan padang adalah salah satu masakan terbaik di Indonesia bahkan di dunia. Ini terbukti dengan adanya Rendang yang telah berhasil meraih tahta sebagai salah satu dari 50 makanan terenak di dunia. Namun, kali ini, bukan Rendang yang mau gw bahas. Gw mau bahas sodaranya Rendang, yaitu Sate Padang.

Makanan itu buat gw kayak mobil, 1 merk tapi banyak tipe. Sate Padang pun demikian. Setidaknya sate Padang memiliki 3 varian yang berbeda. Cara membedakannya adalah dengan melihat isinya. Sate Padang memiliki bahan utama yaitu daging, lidah sapi dan jerohan dengan bumbu kacang yang direbus dengan campuran kaldu sapi, kanji dan berbentuk bubur. Sedangkan Sate Padang Panjang memiliki kuah yang berwarna kuning dan terakhir Sate Pariaman berwarna merah.

Agak rumit menjelaskan persamaan dan perbedaannya, namun Sate Padang Panjang rasanya katanya lebih gurih sedangkan kalau Sate Pariaman rasanya lebih pedas dan sate Padang rasanya adalah perpaduan dari keduanya. Ribet? Yah begitulah. Namun yang jelas, sate padang adalah masakan asli Minang. Jadi kalo ada bangsa lain yang menyebut Sate Padang itu miliknya, ITU PITNAH!!

Nah, lantas apa nih yang mau di bahas? Mmh, gw dan Mega adalah salah satu pasangan penggemar Sate Padang. Bahkan pada saat pendekatan, kita makannya Sate Padang. Salah satu Sate Padang yang terkenal dan berhasil kita jajah adalah Sate Padang H. Ajo Manih yang terletak di Rawamangun Jakarta Timur.

Kita kesana sekitar pukul 7 malam. Tempatnya sederhana dipinggir jalan dengan tenda seadanya. Tapi meski Cuma tenda, ramenya itu lho Masya Allah. PENUH JON!!! Jarang-jarangkan ada warung tenda yang waiting list? Wkwkwk… well, gw ma Mega akhirnya menunggu sampe ada yang keluar, kita jajah tuh korsi. Dan Alhamdulillah, setelah Bung Karno membacakan teks proklamasi ada juga yang kelar makan. Dan kita pun langsung menghempaskan pantat kita ke korsi.

Penuh
Jika kebanyakan tukang sate padang hanya menjual lidah sapi dan jerohannya, disini ada paket lengkap yaitu daging, lidah dan jerohan. Gw pun langsung ambil campur ketiganya, sedangkan Mega sate lidah dan daging. Pesenan datang agak lama. Well, jika blogger blogger lain pesanan dating sangat cepat kurang dari 1 menit, gw kudu menunggu sekitar 3-5 menit soalnya petugasnya lupa pesenan gw ma Mega. Wkwk. Oh ya, petugasnya emang gak nyatet pesenan kita, dia Cuma mengingatnya. Entah dia udah habis berapa vitamin penambah daya ingat dalam sehari.

Dan pesanan pun datang. Gw bingung, mana yang jerohan (jerohannya usus sapi), lidah dan daging. Setelah diperhatikan sekian abad, akhirnya gw mengerti. Jerohan (dalam hal ini usus sapi) potongannya kecil, warna agak merah dan ada lobang eeknya, untuk lidah, potongan kotak yang paling rapi di piring, sedangkan daging, potongannya agak berantak dan bergajih.

Sate Padang yang menjadi bintang
Yang pertama gw coba adalah bumbu. Soalnya enak tidaknya sate padang ditentukan oleh bumbu (setidaknya bagi gw). Rasanya sih enak, gurih, ladanya banyak namun yang gw gak suka adalah, dia agak kurang kentel. Entahlah, rasanya pas namun kayaknya airnya kebanyakan. Meski tetap enyak, jadi agak kurang nendang dilidah.

Soal makanannya ketupatnya dikit. Wkwkwk.. Rasa ketupatnya buat gw enak, berasa ketupat baru dan bukan bekas angetan. Namun porsinya agak terlalu sedikit (perut karung ye?). nah, sate lidah gw makan, dia agak keras. Namun aroma pembakarannya terasa. Sedangkan dagingnya empuk, sayang dagingnya agak kurang bagus soalnya banyak gajihnya. Nah untuk jerohannya yang berwarna merah, rasanya ada bumbu tambahan yang masuk disini. Enak deh. Patut dicoba. Cuma cewek gw sih gak mau. Dia malah nanya

“enak? Gak ada rasa anehnya?”
Hahaha.

Sialnya disini adalah pas kita mau kelar. kebetulan yang dimeja sebelah dah kelar duluan, sedangkan kalo jalan kudu lewat kita. Jadi berdirilah gw dan Mega. Tahu-tahu ada orang yang mau make meja disebelah gw namun jumlah orangnya banyak gilak. Mejanya sebenarnya gak cukup tapi karena kita dah keburu berdiri akhirnya kita yang ngalah. Meski dia minta maaf karena merasa udah mengusir, tapi kan gak enak juga ya, gw ma mega jadi buru-buru abisin makanan sambil berdiri. Nyeeeh.. tapi mau bagaimana lagi?

Nah soal harga, total kita abis Rp. 39.000. itu adalah sate 2 porsi (Rp. 34.000), kerupuk kulit 2, dan air mineral botol 1.

Ya udah, itu aja dulu. Kalo ada cerita lagi, nanti gw posting. Selamat makan!!!

Sabtu, 25 Agustus 2012

Lebaran = Berburu Makanan

Liburan abis Lebaran, niatnya mau jalan jalan keluar kota. Incarannya? Curug Nangka di Bogor sama Curug Cilember di Puncak. Hasilnya? Nihil. Rencana tinggal rencana kawan. Gw Cuma jalan jalan sama cewek gw ke Plaza Festival (dulu pasar festival) buat makan Pizza. Well niatnya sih gw ke Pizza yang di Pancoran, yang baru, sayang pas gw ksana, dia belum buka.

Sampe disana di Pitza Hat-hat (nama restoran gw samarkan. Gw gak mau kena undang undang pencemaran nama baik), kita mendapati pelayanan yang ramah namun galak dan gak mau dengerin maunya pelanggan. Karena Cuma berdua, gw ma cewek gw Cuma dikasih makan di tempat yang nyempil gilak, dengan meja yang emang ngepres Cuma buat bedua. Kecil gilak. Kita mau pindah ke sofa gak boleh (padahal masih kosong pada saat itu) terus gw juga minta pindah ke meja yang buat 4 orang juga gak boleh, minta ke 6 orang juga gak boleh

“Itu untuk 6 orang mas” ujar pelayan perempuan dengan senyum apalan jutek.
“Gak bisa dipisah aja gt mejanya” Tanya cewek gw
“Itu untuk 6 orang mbak” ulangnya.

Akhirnya gw ngalah dan stay di meja kecil. Gak lama ada pelayan cowok. Gw nanya buat pindah lokasi yang lebih nyaman

“Mas, ini gak bisa pindah apa? Ini dh kayak kontrakan tau. Kecil bgt” complain gw.
“oh bisa mas” dia pun nyariin. Sesaat kemudian dia kembali dan nawarin sofa. Gw dah girang kan tuh. Tapi gak langsung dudukin. Gw ma cewek gw ngambil salad dan sebagainya. eh tahu2 gak boleh duduk disana sama mbak-mbak pelayan lagi karena udah ada yang nempatin. Ya udah, terpaksalah kami ke smoking area di luar. Di smoking area, pelayanannya juga lama broh… pizza Idaho yang gw pesen paling lama datengnya. Dan itu pun baru dateng setelah pelayannya ditanyain sama cewek gw. Dan, Pizzanya sudah sampai level hangat, dan bukan panas seperti biasanya. Ckckck…,

pas mau bayar, mbak2nya baru mengklarifikasi kejadian tadi.

"maaf ya mas, mbak. tadi mas Bag*snya gak bilang dulu ke kasir, itu gak boleh" dan lain sebagainya. well, jujur aja, gw dah gak respect sama pelayanannya. gimana yah, kalo mau minta maaf mah harusnya dari awal. kenapa pas mau bayar baru minta maaf?

Nah, hari berikutnya, gw ma cewek gw pun batal lagi jalan2 keluar kota. Macet gilak kayaknya dimana mana. jadi akhirnya diputuskanlah gw dan cewek gw ikut kakak gw makan makan. yep, kami makan gratis booo.. tujuan utamanya adalah Piscator di Epicentrum. kita pun kesana dengan nafsu birahi dan kelaparan. jalan yang lancar pun semakin memberi semangat ekstra "jalan pun merestui kami untuk ditraktir makanan mahal!!" pikir gw. entah emang jalan yang merestui atau Foke yang berhasil mengatasi kemacetan di saat Lebaran, yang gw tau, jalanan lancar dan gw siap makan gila2an.  namun sayang, pas sampe sana ternyata Piscator TUTUP!!!... argh, gak jadi ditraktir makan mahal deh... huks huks huks...

akhirnya kita memutuskan ke Sushi - Ya.. gw langsung 'DAMN!! Sushi?! kan gw gak bisa makan sushi?!' gak sih, gw gak ngomong, gw cuma mikir dengan wajah yang gak enak
"tenang aja, ada makanan lain kok selain Sushi" kata kakak gw yang liat perubahan muka gw.

Kita ke Sushi-Ya yang di Pancoran. lebih tepatnya di TIS Square. disini antrinya alahmakjan. kita waiting list aja gitu dengan gantengnya. setelah nunggu sekian dasawarsa, nama kakak gw baru dipanggil. kita diarahkan keatas dan rungan yang alhamdulillah, no smoking area. mbak lis mesen sushi apa yah? lupa,pokoknya sesuatu yang di roll dan goreng pake tepung. sedangkan mas Fikri pesen Sushi Salmon Mentai dan untuk pembukanya lupa namanya, pokoknya cumi goreng tepunglah intinya. sedangkan gw ma Mega pesen makanan selain Sushi

"Wah, ada Katsudon Yank!" tunjuk dia di menu
"Iya ada, tapi kok di fotonya agak kurang enak ya keliatannya?"
"aku ini yah?"
"Ya udah"
"Mas pesen Katsu..."
"Katsu semuanya habis mbak" potong pelayannya...
"anjrot.. semuanya mas? semuam mua nya?" tanya gw pastiin.
"iya, katsu semua. tinggal yakiniku aja" ujar dia

ya karena gw gak bisa makan sushi akhirnya gw sama cewek gw pesen beef Teriyaki dan beef Yakiniku ukuran large. dan kami pun menanti dengan sabar detik demi detik, menit demi menit, dan sekitar 1 jam makanan belum dateng...




disaat emosi meninggi akhirnya makanan gw dateng.
"Akhirnyaaaa" ujar gw
"itu kan punya aku" ujar mega
"hah? iya yah?"
"iyaaa"
"oh, ya udah"
dan akhirnya gw nunggu lagi...


Mega With Her Food


gak lama, pesenan gw dan makanan pembuka mas fikri dateng. Mega pun minta mayonaise yang spicy. tahu brapa lama datengnya? well, mayonya baru dateng setelah pelayannya gw pelototin. jadi kebayang dong lamanya? tapi itu mendingan sih, pesenannya kakak gw jauh lebih lama lagi. jadi setelah makanan gw abis setengah, pesenan kakak gw baru dateng. wkwkwk... entahlah... mungkin karena lagi peak banget kali ya yang pesen? maklum lah, banyak yang pesen. kan pada di tinggal pembantu? haha


pesenan mbak lis

teh leci


ya udah, itu aja. liburan gw selama Lebaran Lebaran lo gimana?